TANGGUNG RENTENG

Dengan System Tanggung Renteng marilah kita tingkatkan kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat

Minggu, 03 Februari 2013

Dimanakah Posisi Koperasi Ketika Banyak Bermunculan Ritel Modern

Rasakan dan lihatlah banyak minimarket masuk ke kampung-kampung, ini telah terjadi diberbagai kota. Tentu saja keberadaan minimarket tersebut telah mematikan toko-toko milik masyarakat disekitarnya. Pasar mereka tersedot ke minimarket yang telah menjanjikan pelayanan lebih baik. Bahkan dalam soal harga, minimarket juga berani memberikan lebih murah. Modal financial, kualitas SDM dan jaringan usaha telah membuat minimarket lebih perkasa keberadaannya dibanding toko-toko milik masyarakat. Kini toko-toko tersebut bukan hanya bersaing dengan sesama toko yang berada dilingkungannya tapi juga bersaing dengan minimarket yang mempunyai power lebih besar. Begitu pula keberadaan pasar tradisional juga tak luput dari ancaman pasar modern yang berskala besar bahkan diantaranya ada yang mempunyai jaringan multinasional.

Mulai dari sini peran pemerintah sangat dibutuhkan, karena kalau tak diperhatikan sama dengan membunuh perlahan usaha merekadan secara otomatis meningkatkan angka kemiskinan. Dalam kondisi demikian koperasi menjadi harapan  sebagai kumpulan orang bisa mengambil peran. Kekuatan orang per orang dari para pedagang tradisional tersebut jelas tidak akan sanggup berhadapan dengan perusahaan besar dengan menejemen modern.



Dengan berkoperasi para peritel tradisional bisa secara bersama-sama melakukan pengadaan barang, sehingga harga bisa ditekan lebih murah karena pembelian dalam partai besar (tanggung renteng lah sesama koperasi). Koperasi juga bisa memfasilitasi para peritel yang menjadi anggotanya untuk mendapatkan pencerahan tentang pengelolaan ritel yang baik. Kalaupun anggota yang dalam hal ini para peritel tradisional kesulitan dana untuk modal, mereka bisa pinjam di koperasinya. Dengan demikian keberadaan koperasi akan menjadi penopang toko atau ritel tradisional milik masyarakat dalam bersaing dengan ritel modern.

Keberadaan koperasi ini untuk tingkat primer beranggotakan para peritel tradisional yang ada dalam satu kecamatan. Kemudian primer-primer ini membentuk skunder ditingkat kabupaten. Begitu seterusnya hingga tingkat nasional. Dengan demikian jaringan usaha tersebut bisa meliputi seluruh Nusantara. Sehingga bargaining power juga akan menguat, bukan saja dengan para pabrikan tapi juga dengan pengambil kebijakan. Begitu pula dengan koperasi-koperasi produsi bisa mengambil bagian dalam jaringan usaha ini. Disinilah koperasi sebagai pilar ekonomi bangsa bukan hanya menjadi selogan tapi sebuah kenyataan.

Membuat sistem tanggung renteng baik di koperasi maupun dalam sistem perkoperasiannya (antar koperasi) kelihatannya sih memiliki potensi melawan mereka, kalau dengan kekuatan bersama maka pasti bisalah membuat koperasi semakin dipandang dan tak diremehkan

Tidak ada komentar: